no tags
Yogi Rachman
8 January 2018
Jakarta, GoHitz.com - Sobat GoHitz pernah mendengar tentang gereja Tugu? Gereja yang berada di Kampung Tugu, Jakarta Utara ini termasuk salah satu yang paling tertua di Indonesia. Keberadaan gereja Tugu tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Portugis di Batavia.
 
Gereja Tugu dibangun pada tahun 1678 sebagai tempat ibadah para tawanan Portugis yang dimerdekakan oleh Belanda atau disebut Mardijkers. Pembangunan gereja Tugu tak lepas dari peran seorang pendeta Belanda bernama Melchior Leydecker. Dahulu tempat tinggal nenek moyang masyarakat kampung Tugu masih berupa hutan lebat yang penuh binatang buas.
 
"Dia (Melchior Leydecker) seorang pendeta dan ahli bahasa, dia orang Belanda yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat Tugu. Karena mereka yang minta ikut Belanda, jadi sedemikian rupa strategi politiknya supaya pengaruh Portugis itu dihilangkan. Kenyataannya bahwa gereja ini adalah gereja Belanda," ucap Johan Sopahaluwekan dari Komunitas Masyarakat Tugu saat berbincang dengan GoHitz.
 
Gereja Tugu yang pertama konon berlokasi di Gereja Paroki Salib Suci yang berada tidak jauh dari bangunan yang sekarang. Pada tahun 1740 gereja Tugu sempat hancur akibat peristiwa huru-hara etnis Tionghoa (China Onlusten) yang terjadi di Batavia pada masa itu.
 
"Kalau gereja ini adalah bangunan yang ketiga. Pertama tadi kalau masuk ada gereja salib suci, nah itu adalah gereja Tugu pertama tahun 1678. Karena dibuat dari kayu dan rusak, lalu tahun 1740 dibakar karena peristiwa huru-hara Cina di Kota itu merebak sampai ke sini," lanjut Johan.
 
Hingga pada akhirnya di tahun 1744, seorang tuan tanah Belanda bernama Yustinus Vinck menghibahkan sebidang tanahnya untuk kemudian dibangunkan kembali gereja Tugu yang sempat hancur akibat peristiwa huru-hara tersebut. Gereja ini akhirnya diresmikan pada tahun 1748 oleh pendeta J.M Mohr.
 
Gereja Tugu dibangun dengan gaya arsitektur khas Eropa. Di bagian depan gereja terdapat empat tiang penyangga yang dikelilingi pagar kayu berwarna coklat. Atap Gereja Tugu dibuat meruncing ke atas sebagai simbol surga di atas langit. Beberapa peninggalan gereja Tugu juga masih bisa ditemukan oleh para pengunjung yang datang. Seperti lonceng gereja yang masih ada dari dulu.
 
Kini, Komunitas Masyarakat Tugu bersama GPIB tengah berusaha untuk mengembalikan beberapa fungsi asli bangunan gereja yang sebagian telah berubah akibat renovasi.
 
"Ini dalam rangka membalikkan ke fungsi asli. Karena sudah ada penyelewengan. Panjang kanopi itu terpotong 7-8 cm. Lalu bangunan di atas bukan jati lagi sudah diganti baja ringan. Itu akan kita kembalikan," terang Johan.
 
Dirinya melanjutkan, "Dari bulan Oktober sudah dapat rekomendasi dari Gubernur untuk segera ditindaklanjuti. Tergantung kami juga mendorongnya," pungkasnya.
 
Teks : Yogi Rahman
Editor : Paramita
Foto : Kahfie Kamaru

 

Baca Juga




Baca Juga

5 Spot Wisata Kece di Lembang yang Wajib Dikunjungi
22 01 2018
5 Glamping Terunik di Bandung
22 01 2018
5 Wisata Tebing Ini Miliki Pemandangan yang Indah Banget!
20 01 2018
5 Tip Traveling Backpacker yang Smart
17 01 2018