no tags
Fathur Rochman
21 July 2018

Jakarta, GoHitz.com - Perupa senior Indonesia Tisna Sanjaya baru saja menggelar sebuah pameran tunggal bertajuk 'Potret Diri Sebagai Kaum Munafik'. 

Lewat penampilannya ini, Tisna menyinggung fenomena ketika agama digunakan untuk meraih kekuasaan. Fenomena ini ia ungkapkan lewat sebuah karya berjudul 'Sujud'. 

'Sujud' menyuguhkan seni lukis di atas plat tembaga etsa yang merepresentasikan kekhusukan dirinya terhadap Asmaul Husna (99 nama Allah). Bisa dibilang juga, 'sujudnya' Tisna dalam pertunjukan ini merupakan permohonan ampun kepada Tuhan atas kemunafikan manusia yang menyalahgunakan agama mereka. 

"Dengan nama indah Asmaul Husna, maka dari itu yang indah dari Allah itu jangan dikotori dengan cara-cara pengerahan massa untuk menjatuhkan yang berbeda agama, yang berbeda lawan politik. Tapi jadikan nilai-nilai spiritual itu sebagai kerja keras," ucap Tisna saat berbincang dengan GoHitz pada hari terakhir pameran, Sabtu (21/7).

Pameran dan juga pertunjukan Tisna ini digelar di Galeri Museum Nasional Indonesia, Hall A sejak 9 Juli hingga 21 Juli 2018. Pameran ini digelar sekaligus untuk merayakan usia Tisna yang sudah menginjak 60 tahun.

Sebanyak 33 plat etsa telah disusun sedemikian rupa di salah satu ruangan di Galeri Nasional. Dengan iringan sholawat dan nyanyian yang dipadukan dengan seni tari dan musik, Tisna mewarnai plat tembaga etsa itu dengan syahdunya. 

Beberapa bagian tubuhnya seperti telapak tangan, kaki dan wajah dibaluri cairan kental berwarna coklat yang terbuat dari gula dan beberapa campuran lainnya. Kemudian dirinya 'mencetak' bagian-bagian anggota tubuhnya tersebut ke atas setiap plat hingga membentuk lukisan-lukisan abstrak.

Sesekali, Tisna ikut menari mengikuti iringan lagu. Seolah tidak ada yang melihat, Tisna meresapi setiap gerakannya. Dia memejamkan mata. 

Hari ini, Tisna menyelesaikan ke-99 plat etsanya. 

Dalam satu buah pertunjukan, Tisna punya segudang pesan yang ingin disampaikan. Meskipun pada dasarnya hakikat dari performance art ini adalah mengenai potret dirinya sendiri. 

Potret diri seorang Tisna yang ingin teguh memegang agamanya tanpa harus merasa beban. Caranya adalah dengan praktik-praktik seni semacam ini. Sebab menurut dia, agama akan menjadi lebih humanis jika ada seni di dalamnya. 

Seni yang dia pandang bisa mempersatukan berbagai etnis dan perbedaan lainnya. 

"Jadi makna yang ingin disampaikan adalah bahwa nilai-nilai spiritual agama itu mendorong kita untuk menciptakan berbagai macam kreatifitas, dan Allah tidak hanya cinta pada satu etnis tapi semua. Rahmatan Lil Al-Amin," tandas Tisna. 

 

Teks : Fathur Rochman
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : Chairul Rohman

 

Baca Juga




Baca Juga

5 Fakta Membanggakan Tari Poco-Poco Massal Indonesia
6 08 2018
Art Jakarta 2018, Pameran Seni Yang Wajib Dikunjungi Anak Kekinian
3 08 2018
"Batang Aie" Dari Altajaru Gambarkan Dinamika Sungai
30 07 2018
Immersive Dining: Kawinkan Pertunjukan Teater Dan Jamuan Makan
11 07 2018