no tags
Yogi Rachman
3 July 2018
Jakarta, GoHitz.com - Mendapatkan akses pendidikan yang layak merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia. Namun sayangnya tidak semua bisa merasakan hal tersebut. Seperti yang dialami oleh anak-anak dari Rumah Langit ini. Berdiri sejak akhir tahun 2017 lalu, Rumah Langit menjadi tempat bagi anak-anak yang sering dilupakan keberadaannya dalam menerima pendidikan yang layak.
 
Kebanyakan anak-anak yang belajar di Rumah Langit ini berasal dari keluarga kurang mampu yang sebagian besar berprofesi sebagai pemulung dan pengupas bawang. Beberapa anak, bahkan ada juga yang telah putus sekolah. Saat ini tercatat ada sekitar 50 anak-anak dari rentang usia 6 sampai 14 tahun yang setiap harinya belajar secara cuma-cuma di Rumah Langit yang terletak di Jl. Masjid Al Bariyah No.63, Kramat Jati, Jakarta.
 
"Jadi tempat ini punya teman suami saya. Awalnya bekas gudang yang sudah tidak terpakai. Akhirnya teman suami memberikan amanah untuk dijadikan tempat bermanfaat," ucap Nurwina Indrasari pengurus Rumah Langit saat berbincang dengan GoHitz.
 
Anak Langit, sebutan bagi anak-anak yang belajar di Rumah Langit, setiap harinya mendapatkan materi pelajaran yang berbeda. Mulai dari Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Kesenian, hingga Seni dan Budaya. Setelah pelajaran selesai, anak-anak di Rumah Langit juga diberikan makanan gratis.
 
"Kita belajar dari jam 2 siang dari hari Senin sampai Jumat. Setelah belajar kita kasih mereka makan gratis," lanjut perempuan yang akrab disapa Wina tersebut.
 
Dalam menjalankan operasional sehari-harinya, Rumah Langit mengandalkan dana yang dihimpun dari para donatur. Untuk urusan tenaga pengajar, Rumah Langit dibantu oleh para relawan yang berasal dari mahasiswa perguruan tinggi yang setiap harinya silih berganti mengajar Anak Langit.
 
Salah satu relawan pengajar di Rumah Langit bernama George. Pria berkacamata ini bertugas memberikan materi pelajaran kesenian untuk anak-anak di Rumah Langit. George mengaku terpanggil untuk memberikan tenaganya sebagai relawan di Rumah Langit.
 
"Saya mengajar di sini karena emang pengin sih. Kebetulan waktu itu ada waktu luang. Lama-lama seru jadi keterusan. Di sini saya ngajar kesenian. Lebih ke melukis. Mereka sangat antusias kalau untuk belajar menggambar," ungkap George.
 
Nando (10) salah satu anak kurang mampu yang ikut belajar di Rumah Langit mengaku senang dengan materi pelajaran yang diberikan. Menurutnya, suasana belajar yang dibangun di Rumah Langit sangat menyenangkan.
 
"Saya  awalnya tahu Rumah Langit dari teman. Saya ikut belajar di Rumah Langit supaya pintar. Saya senang bisa belajar di Rumah Langit," ujar bocah laki-laki yang bercita-cita sebagai pesepakbola ini.
 
Wina mengaku, awalnya tidak mudah untuk meyakinkan orang tua dari anak-anak yang belajar di Rumah Langit. Sebab, kebanyakan para orangtua menginginkan anak-anak mereka untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.
 
"Orang tua mereka ingin anaknya membantu perekonomian. Di sini kita berusaha agar mereka juga belajar. Walaupun bantu orang tuanya, tapi kita kasih sedikit waktu supaya mereka bisa belajar," jelas Wina.
 
Kerja keras dari para relawan dan tim Rumah Langit dalam mendidik anak-anak kurang mampu ini pun berbuah hasil. Wina bercerita mengenai salah satu Anak Langit yang awalnya sama sekali tidak bisa membaca dan mengenal angka. 
 
"Ada anak pemulung usia 14 tahun. Dia datang ke Rumah Langit buta huruf benar-benar enggak bisa baca. Jadi dia enggak tahu huruf dan angka. Tapi Alhamdulillah ketika kita tarik ke Rumah Langit dan kita eksklusifkan dia belajar sampai empat bulan. Alhamdulillah sekarang sudah bisa baca," terangnya.
 
Rumah Langit juga sering mengadakan semacam study tour dengan mengunjungi berbagai tempat agar kegiatan belajar mengajar tidak membosankan. Di tengah keterbatasan yang ada, Rumah Langit tetap berkomitmen agar anak-anak kurang mampu bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Wina pun berharap kedepannya anak-anak yang belajar Rumah Langit bisa mandiri dan berani untuk bermimpi.
 
"Kita pengin anak-anak itu bisa berkreasi lebih luas lagi, bisa lebih mandiri lagi supaya menemukan jati dirinya. Karena moto Rumah Langit itu kan bermimpi setinggi langit jangan takut terjatuh," tutupnya.
 
 
Teks : Yogi Rachman
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : Kahfie Kamaru

 

Baca Juga




Baca Juga

Berkenalan dengan Heidi, Penyanyi Pendatang Baru di Skena Musik Folk Tanah Air
29 06 2018
Cerita Inspiratif Kevin Naftali Sang Pendiri Kevas Co.
20 05 2018
Ini Sosok Ibu Bagi Tenaga Kerja Indonesia Di Taiwan
14 05 2018
Kisah Menarik Dua Pejuang Air Lestarikan Lingkungan
3 05 2018