Dibaca 769 kali
...
no tags
Fathur Rochman
22 September 2016

Jakarta, GoHitz.com - Indonesia banyak memiliki karya-karya film klasik yang sangat bagus dan berjaya pada masanya. Namun, proses penyimpanan materi asli film-film tersebut yang buruk dan tidak memadai membuat banyak materi asli film yang rusak, bahkan ada yang sampai tidak bisa diselamatkan.

Fakta tersebut sangat memprihantikan dan tidak bisa didiamkan terus-menerus. Harus ada langkah kongkrit dalam upaya menyelamatkan materi asli film-film klasik agar tidak hilang karena faktor buruknya pengarsipan film di Indonesia.

Praktisi Restorasi Film Lisabona Rahman mengatakan, setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan materi film-film klasik tersebut dari kepunahan, yang pertama adalah dengan merestorasi film, dan yang kedua adalah proses preservasi. 

Restorasi adalah proses yang bisa dilakukan untuk mengembalikan mutu film klasik menjadi kondisi yang layak untuk ditonton. Sementara preservasi adalah upaya untuk mengumpulkan dan menjaga materi asli film agar terhindar dari kerusakan. 

"Restorasi penting agar kita generasi mendatang bisa menikmati film lama dengan kualitas yang baik. Kalau kualitas baik, kita bisa belajar lebih detail tentang film lama," ujar Lisa dalam acara diskusi Media Briefing "Restorasi Film Klasik Indonesia", di Foodism, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (21/9).

Melalui restorasi film, kata Lisa, generasi muda bisa belajar banyak tentang film-film klasik, mulai dari bahasa, musik, kostum, alur cerita, hingga penokohan yang dilakukan oleh para pelaku film di masa lalu. Dengan begitu, pengetahuan dan wawasan yang diajarkan oleh para pelaku film tersebut tidak mati, melainkan bisa terus dipelajari dan dikembangkan lebih jauh. 

Proses restorasi sebenarnya sudah bisa dilakukan di Indonesia. Namun, ada beberapa proses pengerjaan yang masih harus dilakukan di luar negeri karena di Indonesia sendiri masih belum memiliki teknologi yang memadai. Misalnya saja proses mereparasi fisik dari materi film asli. Reparasi yang dimaksud adalah berupa pembersihan jamur pada pita film, perbaikan perforasi, merangkai kembali frame yang robek dan pecah dan sebagainya. Lalu proses digitalisasi image 4K dan audio juga masih dilakukan di luar negeri.

Hanya ada sedikit laboratorium yang bisa melakukan reparasi fisik materi asli film dan digitalisasi 4K. Salah satunya adalah Laboratorium L'immagine Ritrovata di Bologna, Italia. Lisa sendiri pernah menuntut ilmu dan bekerja di laboratorium tersebut selama 3 tahun. 

Menurut Lisa, jika masyarakat pecinta film, pemerintah, perusahaan swasta dan media mau peduli dan saling bahu membahu dalam upaya menyediakan teknologi restorasi film di Tanah Air, misi untuk menyelamatkan karya film klasik Indonesia bisa terwujud. 

Upaya yang tak kalah penting dalam menyelamatkan film Indonesia dari kepunahan adalah dengan melakukan preservasi. Preservasi memiliki kaitan yang erat dalam upaya proses restorasi film. Preservasi adalah upaya untuk mengumpulkan dan menjaga materi asli film agar tidak rusak. Jika materi film asli sudah rusak, maka proses restorasi tidak bisa dilakukan. 

"Proses restorasi tercanggih pun tidak akan bisa dilakukan kalau tidak bisa menyelamatkan materi film aslinya. Restorasi digital tidak akan bisa digunakan untuk mengembalikan sejarah yang telah hilang (rusak)," ucap Lisa. 

Di Indonesia sendiri sebenarnya sudah ada tempat penyimpanan film, yaitu Sinematek Indonesia dan Arsip Nasional. Namun, kondisi penyimpanan film di dua tempat tersebut masih jauh dari kata baik dan memadai. Lisa mengatakan, Sinematek Indonesia dirancang bukan sebagai tempat penyimpanan materi asli film, melainkan sebagai perpustakaan film. Disini, kata Lisa, Sinematek Indonesia tidak hanya menyimpan film saja, tetapi juga menyimpan buku, poster, kostum dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan kerja yang dilakukan oleh Sinematek Indonesia menjadi tidak fokus sehingga proses preservasi yang dilakukan menjadi tidak maksimal. 

Sementara, di Arsip Nasional sendiri sebenarnya memiliki tenaga ahli yang lebih Profesional dibanding sinematek Indonesia. Selain itu, Arsip nasional juga lebih fokus dalam proses pengarsipan film. Namun menurut Lisa, teknologi penyimpanan film yang ideal agar film bisa bertahan lama masih belum dimiliki. 

"Di Jakarta kelembabannya mencapai 70-80 persen. Hal itu membuat suhu di tempat penyimpanan film menjadi 16 derajat celsius. Kalau kelembaban mencapai 80 persen dengan suhu 16 derajat, daya tahan (materi film asli yang disimpan) hanya 5 tahun. Idealnya suhu tempat penyimpanan itu 6 sampai 9 drajat celsius. Kalau penyimpanannya baik, kita bisa memiliki materi film asli dengan daya tahan hingga 230 tahun," tutur Lisa.

Saat ini, lanjut Lisa, yang perlu dilakukan adalah membangun sebuah tempat penyimpanan film yang ideal, dimana didalamnya hanya fokus terhadap proses preservasi film dan terdapat teknologi yang memungkinkan materi film asli mampu bertahan hingga ratusan tahun. 

"Kalau materi film asli disimpan dengan baik dan lengkap, maka proses untuk melakukan restorasi bisa lebih cepat dan murah. Tapi kalau materinya sudah rusak, maka menjadi 50:50, 50 persen bisa diselamatkan, sisanya bisa hilang, dan tentu butuh waktu yang lama dan biaya yang mahal," pungkas Lisa‎.‎

Editor : Paramita
Foto : Fathur Rochman
     

 

Baca Juga




Baca Juga

Film Satu Hari Nanti, Khusus Untuk Usia 21+
24 11 2017
Film Filosofi Kopi 2 Kini Bisa Ditonton Secara Digital
23 11 2017
Prisia Nasution Tak Susah Cari Chemistry Dengan Adipati Dolken
23 11 2017
Pokemon The Movie Bakal Tayang Akhir November Ini!
22 11 2017