...
no tags
Maria Cicilia Galuh
21 May 2018

Jakarta, GoHitz.com - Fotografer senior Edi Purnomo, pada awal Mei 2018 ini meluncurkan karya buku foto terbarunya berjudul "Wildtopia". Ini merupakan karya buku foto keduanya, setelah pada 2012 lalu menelurkan buku pertama berjudul "Passing". 

Dari tampilannya, buku foto setebal 76 halaman ini tak ubahnya seperti buku anak-anak. Aneka tampilan foto satwa, baik yang merupakan foto satwa asli maupun foto lukisan-lukisan satwa, memenuhi lembar demi lembar halaman kertas. Penggunaan kertas tebal dan minimnya naskah narasi semakin menegaskan bahwa buku foto ini memang serupa dengan buku anak-anak.

Namun dibalik tampilannya yang mirip buku anak-anak ini, ternyata terdapat makna ataupun pesan yang dalam yang ingin disampaikan oleh seorang Edy Purnomo, utamanya mengenai pelestarian satwa liar.

Berikut GoHitz sajikan hasil petikan wawancara dengan Edi Purnomo mengenai buku terbarunya yang berjudul Wildtopia. Wawancara tersebut dilakukan di Wisma Antara lantai 16, Jakarta Pusat, pada Jumat (18/5) lalu. 

GoHitz: Apa yang melatar belakangi Anda membuat karya buku foto ini? 

Edi: Latar belakang buku Wildtopia ini sebenarnya keresahan saya terhadap alam liar. Pertama hubungan wildlife atau satwa liar dengan manusia. Lalu awalnya saya tertarik pada hubungan manusia dalam arti artifisial dengan bentukannya, seperti di kota modern. Lalu di saat yang sama, dulu kan saya sering jalan ke hutan, terus melihat kondisi sekarang yang alam, kemudian satwa liar yang habitatnya mereka harus bertarung. Di situ saya mencoba mengkolerasikan dengan manusia modern yaitu bentuk hubungannya di kebun binatang. Jadi kebun binatang itu adalah bentuk hubungan manusia dan satwa liar, di lain pihak mungkin banyak perdebatan, tapi saya memakai tesis bahwa hubungan ini salah satunya mungkin nantinya adalah penyelamat dari satwa-satwa liar itu dari kepunahan. 

GoHitz: Apa yang menarik dari buku ini?

Edi: Yang menarik itu mungkin konsepnya. Konsepnya saya lebih mengambil buku anak-anak, dalam arti bentuknya, terus penyajiannya. Saya bercerita dengan cara mungkin yang tidak terlalu rumit ya. Saya menceritakan permasalahan yang mungkin agak lebar, tetapi saya ambil sisi yang enggak terlalu rumit. Orang punya pengalaman yang sama pada saat kecil, mungkin melihat buku-buku dongeng, fantasi,  semacam kayak gitu. Tapi di saat yang sama saya ingin juga mungkin bisa menyadarkan seseorang tentang pentingnya pelestarian satwa untuk masa depan. 

GoHitz: Mengapa mengambil judul "Wildtopia"? 

Edi: Wildtopia itu ada dua gabungan sih,  wildness sama utopia. Wildness itu lebih ke wild, alam liar. Kalau utopis itu kita mengangankan sesuatu tapi angan itu sebenarnya tidak pernah terjadi. Jadi sebenarnya wildness itu kita mengangankan tentang alam liar tapi enggak pernah terjadi, jadi ya utopia sekali, kayak di kebun binatang itu. Baik di alam liar maupun di kebun binatangnya ya semua utopia. Kita menginginkan tapi sebenarnya sampai sekarang tidak pernah terjadi.

GoHitz: Bisa diceritakan bagaimana proses produksinya? 

Edi: Kalau motretnya saya mulai dari 2014 sampai 2016. Yang lama justru di post production, karena proses kreatif, gabungin sama foto editor, desainer, lalu kemudian saya terakhir mengundang kolaborasi sama Resatio (Adi Putra), salah satu artis kolase yang ada di Indonesia untuk mencoba merespon foto saya. Dan akhirnya bentuknya terakhir seperti ini.

GoHitz: Berapa lama proses post production ini? 

Edi: Post production ini prosesnya hampir 1,5 tahun. Ngerjainnya ini gimana ya (?). Konsepnya sih awal saya sangat tertarik dengan buku anak-anak. Terus desainer menemukan oh bentuknya bold book, pakai kertas tebal. Sampai agak lama masih belum menemukan bentuknya kemudian kita kolaborasi dengan kawan lain. Seperti itu. 

GoHitz: Apa kesulitan yang dialami selama proses pembuatan buku foto ini? 

Edi: Kesulitannya mungkin lebih ke karena buku foto mungkin agak membedakan dengan buku-buku yang lain. Karena buku foto enggak hanya kumpulan foto, tapi bagaimana menggabungkan menjadi satu kesatuan kuat. Ada narasinya, kemudian ada desainnya yang menguatkan buku itu. 

GoHitz: Di mana saja lokasi pengambilan fotonya?

Edi: Ini di Indonesia semua. Ada beberapa tempat, tapi akhirnya yang di buku ini ada beberapa kebun binatang seperti Kebun Binatang Surabaya, Taman Safari Pasuruan, lalu di Secret Zoo di Batu Malang, terus di Kebun Binatang Yogyakarta, Ragunan tentunya karena dekat sekali dengan saya tinggal dan di Bandung. 

GoHitz: Mengapa Anda memilih kebun binatang? 

Edi: Saya kalau motret di alam liar sudah beberapa kali menggunakan pendekatan seperti itu. Dan mungkin banyak kawan-kawan yang melakukan hal serupa. Tapi saya sengaja memang mengambilnya di kebun binatang, karena di kebun binatang menurut saya sangat unik. Karena di sini bentuk hubungan manusia dan satwa liar.

Dan yang terakhir ada tesisnya dari si Elizabeth Kolbert tentang kepunahan keenam bahwa kebun binatang itu mungkin satu-satunya tempat nantinya untuk menyelamatkan satwa meskipun menyedihkan. Maksudnya tempat itu penting, enggak hanya sebagai tempat entertain, tapi ya karena di alam liar sendiri kita sudah bertarung habitat, hewannya sudah bertarung, manusia sudah memperebutkan lahannya, terus kemudian perubahan iklim. Makanya saya tertarik dengan kebun binatang, itu punya sesuatu sebenarnya. Tetapi yang sekarang terjadi, manusia lebih cenderung eksploitatif, lalu tidak melihat kebun binatang punya fungsi yang sebenarnya lebih besar dari pada apa yang ada di situ.

GoHitz: Siapa target pembaca buku foto ini? 

Edi: Saya inginnya sebenarnya sama seperti novel. Saya selalu berpikiran seperti itu karena buku foto itu populer tapi masyarakatnya terbatas. Dan saya pengin ini bisa diakses oleh semua kalangan. Pada awalnya teman-teman fotografer, tapi setelah ada beberapa keluarga yang beli, anak-anaknya pada berebut. saya juga akhirnya wah ini menarik gimana mereka akhirnya menerjemahkan itu dengan kacamata anak-anak. 

GoHitz: Pesan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca lewat buku ini? 

Edi: Pesannya lebih ke mereka punya kesadaran baru bahwa banyak hal yang di sekitar kita perlu kepedulian. Mungkin sekilas kita kalau melihat satwa mesti ke alam liar. Tapi kita mempelajari bahwa untuk pelestarian satwa atau semacam kayak gitu bisa dimulai dari hal-hal yang kecil di sekitar kita. 

GoHitz: Di mana bisa memperoleh buku ini? 

Edi: Di toko buku besar sih enggak. Beberapa di kita sendiri, di PannaFoto Institute yang mempublishingnya. Terus kemudian ada di beberapa teman di Unobtainium-photobook.com, lalu di Gueari Galeri di Pasar Santa.  Harganya 260 ribu. 

GoHitz: Terakhir, seperti apa strategi promosinya? 

Edi: Lebih banyak diskusi. Kemarin terakhir kami adakan roadshow di Makasar. Ke depan mungkin ada di Malang, Surabaya, Kediri juga. Lalu juga kemarin ada kawan di Padang juga sudah mulai (mengundang).

 

Teks : Fathur Rochman
Editor : Maria Cicilia Galuh
Foto : Kahfie Kamaru

 

Baca Juga




Baca Juga

Jackie Chan akan Luncurkan Buku Memoar Never Grow Up
16 06 2018
5 Novel Cinta Islami Populer Ini Cocok untuk Menunggu Waktu Buka Puasa
30 05 2018
Marvel Akan Buat Komik Tentang Mentor Han Solo Muda
24 05 2018
Kisah Pahlawan Keumalahayati Dijadikan Komik
22 05 2018